Inspirasi

Selesaikan HUTANG RIBAMU, Baru Boleh MENGAJI

SELESAIKAN HUTANG RIBAMU, BARU BOLEH MENGAJI

SELESAIKAN HUTANG RIBAMU, BARU BOLEH MENGAJI

“Waduuuh ustadz, kita sisipan. Saya baru menuju Pati, ustadz malah menuju ke tempat saya di Tayu. Kirain kita bisa ketemuan di Pati..”, ujarnya via telpon.

“Udah gakpapa, saya sedang santai kok..”, jawab saya santai. Memang saya lagi agendakan “sidak” berkeliling mengunjungi para member DPS yg punya projek di Jateng. Berangkat ke Cirebon mulai Jumat dan kembali ke Jakarta insyaallah hari Selasa.

“Siap ustadz, tunggu saya sekitar 1 jam. Saya balik langsung kesana. Ustadz silahkan lihat-lihat saja dulu projek saya..”, tukasnya.

Namanya Haris. Saya mengenalnya beberapa waktu silam dalam program event Developer Property Syariah. Hebatnya nih orang, dia ikutan acara seminar di Solo. Tidak puas, lalu ikut program Booth Camp di Lembang Bandung. Kurang mantab, ikut hadir lagi di 2 days Workshop di Semarang. Biar makin mantab, hadir lagi di Camp Property Syariah di Yogya. Bener-bener semangat pembelajar. “Saya emang telmi ustadz, jadi mesti rajin mengulang-ulang..”, ucapnya merendah.

Sembari menunggu, saya manfaatkan satu jam itu untuk berkeliling komplek perumahan yang dibuatnya. Lumayan luas, tahap 1 ada 170 an unit dan udah sold out. Tahap 2 juga takkalah banyak dan sudah mulai bangun. Saya dokumentasikan masjid yg lumayan megah, lapangan futsal, lapangan badminton, TK dan PAUD. Lumayan lengkaplah, bagus juga nih kompleks. Tak lupa saya jepret main gate perumahannya yang spanduknya dengan menantang menawarkan skema Property Syariah ‪#‎TanpaBungaBank‬ ‪#‎TanpaBI_Cecking‬ dan ‪#‎TanpaSita‬. Berikut tagline lainnya khas slogan Property Syariah.

Tepat satu jam kemudian, masuklah Honda Freed dengan kencangnya. Lalu muncullah sesosok lelaki bersongkok haji berlari terburu-buru menjumpai saya.

“Maaf ustadz, bener-bener saya minta maaf. Saya harus antar anak saya ke kota Pati karena sore ini mau balik ke Klaten.”, ujarnya dengan penuh sesal.

“Gakpapa, la ba’tsa. Bukan masalah besar. Santai saja. Saya cuma pengen mendengar perkembangan projek property antum..”, tukas saya singkat.

Lalu dia pun bercerita panjang lebar. Tentang perjalanan bisnis propertinya. Termasuk saat-saat berhijrah ke skema Property Syariah sekaligus bergabung ke dalam barisan para pengemban dakwah.

“Saya kaget ustadz, pada mulanya saya diajak ikut acara Rapat dan Pawai Akbar, lalu setelah itu terlibat diskusi dengan ustadz-ustadz disini. Begitu saya mulai tersadar dan minta kajian intensif, saya disyaratkan satu hal yang menurut saya lumayan berat..”, tuturnya.

“Apaan tuh..?!”

“Saya harus menyelesaikan dulu urusan hutang riba di bank dulu, baru boleh mengaji intensif. Padahal bisnis saya sedang lesu saat itu..”, lanjutnya.

“Lha terus gimana, berapa sih hutang njenengan di bank..?”, tukas saya gak sabar.

“Lumayan tadz, masih 7 M. Dan saya tidak punya pilihan lain kecuali melunasinya. Biar saya bisa ngaji dan bergabung dalam barisan dakwah ini..!”, jawabnya mantab.

Wah, hebat juga nih orang, begitu pikir saya. Melunasi hutang bank 7 M dlm waktu sekaligus tentu bukan perkara mudah. “Trus, gimana cara njenengan ngelunasinya pak Haris.?”

“Saya jual ruko saya, kios saya, tanah-tanah saya dan beberapa aset yang lain yg bisa dijual. Dan alhamdulillah cukup untuk melunasi hutang saya di bank. Tuntas..!”, jawabnya mantab

“Alhamdulillah, trus piye perasaan sekarang ketika njenengan sudah tidak punya lagi hutang..?

“Lhah jangan ditanya ustadz. Uenak plong rasanya hidup tanpa hutang tanpa riba. Sekarang saya malah punya banyak waktu longgar. Sholat pun bisa tenang dan rutin berjamaah dimasjid komplek ini..”, jawabnya dengan senyum khasnya yg mengembang lebar. Riba emang bikin gila. Percaya deh..!

“Lha trus gimana terkait penerapan skema Property Syariah di bisnis yang sekarang..? Apa yang paling terkesan..?”, pancing saya. Dan inilah jawaban yang bikin saya terkaget-kaget..

“Yang paling terkesan adalah ketika saya nolak pengajuan pembelian oleh pegawai bank yang ingin membeli unit rumah saya..”, jawabnya.

“Lho, ada orang bank mau beli property tanpa bank, trus kenapa ditolak..?”, tanya saya.

“Ada 2 alasannya ya ustadz. Saya sampaikan ke dia, saya hanya mau properti saya dibeli pakai uang yang halal..!”, jawabnya.

“Trus yang kedua..?”

“Saya dulu sering di blacklist oleh pihak bank. Sekarang saya mau balas, saya akan blacklist orang bank yang mau beli property saya..!”

Hahahaaa…
Kami berdua tertawa ngakak. Masak orang bank mau beli properti tanpa bank..? Hehehe. Takterasa waktu makin sore. Saya harus melanjutkan perjalanan meninjau projek-projek lain milik para member DPS Jateng.

Alhamdulillah..
Bola salju ini ibarat gerakan yang semakin membesar dan menggelinding kencang. Teriring doa, semoga para pegiat Property Syariah diberikan kelancaran dalam bisnisnya. Makin berkah makin berlimpah. Aamiin.

Juwana
27 Maret 2016

@RosyidAziz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *