Inspirasi

MEREKA YANG BERHIJRAH (10) – Pengusaha yang jadi Rebutan Bank Penjaja Riba

MEREKA YANG BERHIJRAH (10) - Pengusaha yang jadi Rebutan Bank Penjaja Riba

MEREKA YANG BERHIJRAH (10)
[Pengusaha yang jadi Rebutan Bank Penjaja Riba]

Namanya Gamal Haris. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi karismanya memancar kuat dari wajahnya. Takheran lelaki asal Pati ini kerap disambangi para politikus khususnya jika menjelang hajatan demokrasi. Dus, ternyata betul. Beliau memang sempat aktif jadi pengurus partai politik di Kabupaten yang terletak di sebelah timur Semarang ini.

Kisah heroiknya dimulai sejak 2001 sesaat setelah toko bangunan milik keluarganya secara total ia ambil alih dengan baik-baik dari kakaknya. Sejak saat itulah pak Haris, begitu biasa kami menyapanya, resmi menjadi pengusaha dan penguasa toko material eks milik keluarga. Lalu dimulailah era baru baginya, era riba durjana.

“Pak Haris, bisa diceritakan awal mula anda berhubungan intim dengan riba..?”

“Semenjak toko bangunan resmi saya kelola. Awalnya hutang 400 juta. Lalu naik jadi 750 juta di tahun 2005. Lalu naik lagi jadi 1 M di tahun 2006..”, jelas pak Haris. “Makin lama hubungan saya dengan pihak bank BNI makin akrab..”

“Apakah hanya berhubungan dengan satu bank saja..?”

“Tidaklah.. Ketika lagi mesra-mesranya dengan BNI, bank BCA datang menggoda. Saya diiming-imingi bunga lebih murah, provisi lebih rendah dan plafon pinjaman dinaikin jadi 1,45 M. Siapa yang gak tertarik digodain kayak begini..?”, akunya. “Akhirnya saya tergoda juga deh..”

“Bank yang lain, ada juga yang ngajakin selingkuh..?”

“Nah itu dia. Baru saja berkas masuk ke BCA, datanglah Bank Mandiri dengan penawaran yang lebih seksi. Bunga dan provisi sama dengan BCA tapi plafon lebih gede jadi 1,75 M. Klepek-klepek saya tadz..”, jawab pak Haris. “Saya langsung proses dengan Mandiri. Bahkan saat itu udah tandatangan..”, tambahnya.

“Trus, bagaimana dengan bini pertama… ehh, BNI..?”

“Ketika saya datang ke BNI untuk pamitan sekaligus mengucapkan terima kasih, ternyata pihak BNI keberatan. Dia gak rela dicerai, minta waktu maksimal 2 minggu untuk bersolek, hehee. BNI merasa bisa berdandan lebih cantik, lebih seksi, lebih menarik dari bank lain..” Jelas pak Haris. “Dan bank ini segera bergerak cepat. Hanya dalam waktu 10 hari dia sudah kasih jawaban..”, imbuhnya.

“Apa jawabannya..?”

“Bunga dan provisi disamain dengan Mandiri namun plafon dinaikin jadi 2 M. Plus akan diback up kalau minta tambahan dana lagi. Asal terbuka, dan gak usah selingkuh dengan bank lain, hehehe..”, jelasnya.

Wow… tuhh, liat man temans..
Begitulah cara main bank. Jika ada maunya, lagi memprospek konsumen, bersolek tuh dia. Pas kita lagi jaya, mendekat tuh dianya. Dan ternyata persaingan sesama penjaja riba sedemikian sengit ya..? Berlomba-lomba dalam keburukan, hihihiii..

“Apa cuma 3 bank itu yang datang godain pak Haris..? Apa gak tertarik untuk coba selingkuh lagi..?”

“Ya iyalah tadz. Gara-gara saya jadi rebutan bank, saya jadi sombong. Karena dibelakang saya ada beking bank. Akhirnya saya justru makin menjadi-jadi. Astaghfirullah…”, kata pak Haris. “Saya milih ekspansi gede-gedean..”

“Ekspansi di bidang apa saja..?”

“Bank Panin mensupport saya bikin bimbel berikut beli rukonya 750 juta. Di kota lain saya disupport CIMB Niaga 980 juta untuk cabang bimbel di kota lain. Lalu beli dump truk baru langsung 5 unit yang di back up juga oleh Panin sejumlah 1 M. Saya juga bikin pabrik bata beton paving dengan utang melalui Bank Muamalat 1,95 M. Belum lagi mobil pribadi yang gonta ganti. Pokoknya nafsu banget deh berhutang..!”, jelas pak Haris.

“Gileee beneeer. Banyak amat utangnya. Total berapa jumlah hutang waktu itu..?”

“Lebih dari 8 Milyar tadz. Itu belum termasuk 20 kartu kredit yang saya pegang dengan limit sekitar 500 juta..”, akunya. “Akhirnya usaha saya juga beraneka macam, mulai buka rumah makan, kontraktor, salon muslimah hingga main perumahan juga..”

Hadeeuuuuh…
Begitulah realita riba perbankan. Tak akan pernah puas, tak ada habis-habisnya. Dirayu terus, dibujuk terus, digoda terusss.

“Ehhh pak, ngomong-omong berapa angsuran per bulan untuk nyicil itu semua..?”

“Ada lebih 150 juta per bulan..”

“Eheeem.. gede juga ya..? Trus, gimana kok tiba-tiba berubah seperti sekarang ini..?”

“Saat itu saya ikut kajian ekonomi yang menyinggung mengenai besarnya dosa riba. Tapi saat itu belum tau solusinya. Intinya saya harus segera meninggalkan transaksi riba hingga akhirnya ketemu solusi praktisnya dengan Skema Property Syariah. Ploooong banget rasanya dapat solusi..”, jelas pak Haris. “

Oh iya man teman. Pak Haris ini semangatnya menimba ilmu sungguh ruar biasa. Beliau datang saat saya ngisi half day Workshop Property Syariah di Solo. Lalu hadir di Camp 3 hari di Lembang Bandung. Trus hadir juga saat two days Workshop di Semarang. Eee… saat acara Camp DPS di Yogya ternyata beliau juga nongol. “Saya memang rada telmi tadz, jadi harus sering-sering ngulang materi..”, begitu alasannya ketika saya tanya.

“Trus apa lagi yang ingin pak Haris ceritakan..?”

“Suatu saat ketika ngaji, saya diwarning untuk memilih. Melanjutkan kajian dengan syarat bebas dari hutang bank (riba) atau kajiannya dicukupkan berhenti sampai ini saja..”, kata pak Haris.

“Bapak pilih mana..?”

“Saya pilih agar tetap bisa diperbolehkan ngaji. Konsekuensinya saya harus segera beresi hutang bank. Akhirnya toko bangunan legendaris saya jual. Ruko salon saya jual. Rumah makan saya jual. Truk-truk juga saya jual cepat. Yang penting ngumpul duit untuk lunasi utang yang masih sekitar 8 M. Alhamdulillah keluarga juga mendukung. Lunas tuntas..!”, jelasnya dengan manstrab.

Subhanallah walhamdulillah..
Tidak banyak lho orang yang berani mengambil resiko dengan menjual aset seperti yang dilakukan pak Haris. Kebanyakan orang pengen utangnya lunas, tapi gak mau ngelepas asetnya. Gak mau berkorban. Bahkan kalau bisa, utangnya yang ngelunasi orang lain aja. Enak tenaaan..!

“Bagaimana dengan Property Syariah, apakah sudah diterapkan di projek perumahannya..?”

“Alhamdulillah.. saat saya berhijrah, saya masih punya 200-an unit rumah yang akhirnya saya jual dengan skema Syariah tanpa bank, tanpa BI Cecking, tanpa sita, tanpa denda, tanpa ribet, njlimet dan mumet. Hingga kini sudah terjual 40 unit..”, jawab pak Haris.

“Bagaimana kesannya setelah pakai skema yang unik anti mainstream ini..?”

“Sangaaaaaat beda. Sangat beda sekali. Hikmahnya kini saya bisa istiqomah jamaah di masjid 5 waktu. Bisa punya waktu lebih banyak dengan keluarga. Bisa aktif lebih banyak untuk kegiatan dakwah. Bisa bantu banyak orang memiliki rumah dengan cara halal walaupun mereka tidak bankable..”, ucap pak Haris. “Dan yang paling penting adalah……”

“Apaan tuh..?”

“Saya sudah tidak punya hutang riba lagi. Ploooong…!”

Alhamdulillah…
Mari doakan semoga pak Haris bisa istiqomah dalam jalan dakwah ini. Tidak lagi tergoda dengan bujuk rayu para penjaja riba jahiliyyah. Doakan juga agar bisnis Property Syariahnya lancar berkah dan rizkinya berlimpah ruah. Aamiin.

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *