InformasiInspiratif

Bisnis Properti Syariah Mahal?

Bisnis properti syariah
Tabel Simulasi Angsuran KPR
Tabel Simulasi Angsuran KPR

Ada beberapa pandangan dan opini umum di masyarakat kita bahwa jika transaksi syariah itu haruslah murah meriah, bahkan kalau perlu gratis. Sehingga seringkali muncul celetukan, “katanya syariah, tapi kok mahal..?”. Pertanyaan ini seperti Jaka Sembung jadi dermawan. Ora nyambung kawan..!

Tak usah dulu kita kemukakan dalil, karena yg berpendapat bahwa transaksi syariah itu wajib murah dan dilarang mahal pasti akan terdiam jika langsung disodorkan hujjah yang kuat. Kita lihat dulu dari fakta yang ada saja. Setuju ya..?

Berikut tabel simulasi Kredit KPR yang dirilis salah satu bank plat merah dengan aset terbesar di Indonesia, yang kami dapatkan saat Pameran Rumah Rakyat yg baru berakhir ahad kemarin. Ingat, bank terbesar dan terluas jaringannya se-Indonesia. Artinya, duitnya buanyak banget. Plus, harga yang ditetapkan sudah disubsidi (bunganya) oleh pemerintah melalui program FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahaan). Berapa bunga KPR nya..? 7,25%. Silahkan cermati angsurannya.

Lantas, bagaimana jika rumahnya bukan rumah sederhana nan mungil (type 22, 25, 29, 30). Tapi type yang agak lebih besar dikit (36, 42, 45, 70 dst). Tentu saja harga angsurannya lebih mahal dan bunga ribanya pun lebih besar. Rata-rata bunga KPR 13-14% itupun hanya berlaku di 1-2 tahun pertama saja.
Apalagi jika bank-nya adalah bank kecil atau bukan bank umum nasional, tentu suku bunga pinjamannya jauh lebih tinggi lagi. Silakan ceck daftarnya disini :

http://www.seputarforex.com/data/bunga_kredit_pinjaman/

Data diatas itu belum termasuk “bonus” dosa besarnya lho. Yang dalam hadits Nabi dikatakan 1 dirham (sekitar Rp 65.000) setara dosa zina dengan 36 pelacur. Bahkan, sekecil-kecilnya dosa riba ibarat seorang anak laki-laki menyetubuhi ibu kandungnya sendiri. Hiii, mengerikan. Na’udzubillahi min dzalik.

Nah, jika ada Developer Property Syariah yang berani mengkreditkan sendiri rumah kepada konsumen pembelinya dengan skema #TanpaBank #TanpaRiba lalu menetapkan harga lebih mahal sedikit dari KPR bank terbesar yg memakai fasilitas subsidi, apakah tetap anda katakan mahal..? Bisa jadi masih ada yg mengiyakan (tapi kebangeten deh). Negara kok dilawan..

Tapi, coba perbandingkan dengan skema KPR bank lain (atau lembaga keuangan non bank) untuk rumah non subsidi, dengan plafon dan durasi yg sama. Termasuk bandingkan juga dengan bank yang berlabel “syariah”. Sekali lagi, jika anda punya data, coba bandingkan. Lebih murah mana hayooo..?

Perkaranya, ternyata bukanlah mahal atau murahnya angsuran. Tapi terjangkau tidaknya dengan kemampuan anda dalam membayar. Jika anda punya jangkauan kemampuan jauh diatas angsuran, bisa jadi anda akan katakan murah. Iya ‘kan..?

Yang lebih penting lagi, perkara utamanya bukanlah mahal atau murahnya harga. Tapi halal atau haramkah rumah itu kita miliki. Walau dianggap murah tapi hanya menimbun dosa, lantas untuk apa..? Apalagi sudahlah harganya mahal, nimbun dosa pula. Memang hidup didunia ini untuk apa..?

Dan yang jauh lebih penting dan utama lagi adalah, negara ini sudah mengadopsi riba dan bunga bank dalam aktivitas ekonominya serta meninggalkan syariah-Nya yang mulia. Sehingga ada saja orang yang sempet-sempetnya membandingkan yang halal dengan yang haram dari sisi harga. Persis ibarat jika ada yang membandingkan biaya menafkahi istrinya dengan ongkos “jajan” di lokalisasi. Gak level boss.

#Idiiih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *