Hadist Pilihan

Balada Sulhan dan Rosihan (Bagian 2)

💶 BERHUTANG ITU SUNAH 💸

Balada Sulhan dan Rosihan

(Bagian 2 dari 9 Tulisan)

✅ Alkisah al-Imajiner, setelah menunggu sekian lama, akhirnya Sulhan keluar juga dari toilet. Mungkin karena shock dengan argumen sahabat karibnya, si Rosihan.

➕ “Olalaa… lama kali kau kebeletnya, Sul. Entah apa pula yang kau keluarin, macam ayam bertelur keluar intan permata aja kau ini..?”, canda Rosihan meniru gaya Batak begitu melihat Sulhan keluar dari kamar mandi. “Gimana, apa kabarmu lagi..?”


“Alhamdulillah.. ruarrr biasa… Allahu Akbar..!”, sahut Sulhan sambil mengepalkan tangannya khas motivator kondang.

➕ “Mau kita lanjut lagi obrolan kita, aku masih ada 8 hal lagi yang ingin kusampaikan..”, kata Rosihan.


“Tentang apa lagi..?”, tanya Sulhan pura-pura tidak tau.

➕ “Sul, kita ini ‘kan dari padepokan yang sama, sekolah ditempat yang sama, bahkan belajar pada suhu yang sama. Betul apa betul..?”, pancing Rosihan.


“iyyalah, bos. Pasti betullah itu. Masak enggak. Trus..?”

➕ “Trus, kita pun sudah pernah berikrar, akan selalu mengikuti pendapat padepokan kita. Penjaga terpercaya ide-idenya. Juga pendapat suhu kita dimana suhu kita pun mengikuti pendapat dari suheng kita, walau mungkin pendapat kita sendiri berbeda dengan pendapat para tuan guru kita tersebut. Betul apa betul..?”, tanya Rosihan.


“Betul, aku bahkan masih ingat persis saat berikrar dulu..”, jawab Sulhan mantab.

➕ “Nah, kalau gitu aku sekedar mengingatkan saja tentang pendapatmu bahwa berhutang itu hukumnya boleh atau mubah atau jaiz. Begitukah..?”, tanya Rosihan.


“Iyya betul begitu. Memang berhutang itu mubah kok..”, jawab Sulhan.

➕ “Gimana kalau pendapat suhu dan suheng kita jika bertentangan dengan pendapatmu..?”


“Lha jelas, aku akan merubah pendapatku dan mengikuti pendapat padepokan seperti yang disampaikan guru-guru kita. Apalagi jika itu tercantum di kitab-kitab padepokan kita. Itulah yang kita pernah ikrarkan..”, jawab Sulhan mantab.

➕ “Manstraaabbbb… Nah gitu donk brow. Nih, aku bacakan pendapat dari tuan guru kita yang khusus aku mintakan ditulis untuk diskusi kita. Simak baik-baik ya..!”

🍀
🌷
🌹

💶 HUKUM BERHUTANG
💰

👳
🏽KH Hafidz Abdurrahman

📋 Soal :

Bagaimana pandangan Islam tentang berhutang, apakah sama juga dengan menghutangi, yaitu sunah ? Ataukah, mubah atau bahkan makruh ?

📝
Jawab :

✅ Mengenai status memberikan pinjaman [iqrâdh] jelas, tidak ada perselisihan di kalangan ulama’, karena adanya indikasi [qarînah] yang kuat dari Nabi saw. Nabi saw. bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلَّا كَانَ كَصَدَقَةِ مَرَّةٍ» [رواه ابن ماجه عن ابن مسعود]

“Tidaklah seorang Muslim benar-benar memberikan pinjaman kepada Muslim yang lain dua kali, kecuali [pahalanya] seperti sedekah sekali.” [Hr. Ibn Majah dari Ibn Mas’ud]

✅ Indikasi lain, Nabi saw. bersabda:

«رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي مَكْتُوبٌ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قُلْتُ لِجِبْرِيلَ : مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: إِنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضُ لا يَسْتَقْرِضُ إِلا مِنْ حَاجَةٍ» [رواه ابن ماجه عن ابن مسعود]

“Aku telah melihat di malam, ketika aku diisra’ mikrajkan. Tertulis di pintu surga: Sedekah [pahalanya] sepuluh kali lipat. Hutang delapan belas kali lipat. Nabi saw. bertanya: Aku bertanya kepada Jibril: Apa gerangan yang menyebabkan hutang lebih baik ketimbang sedekah? Jibril menjawab: Orang yang meminta boleh jadi dia meminta, sedangkan dia mempunyai harta. Sedangkan orang yang berhutang tidak akan berhutang, kecuali karena membutuhkan.” [Hr. Ibn Majah dari Anas bin Malik]

✅ Kedua hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Ibn Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni, sekaligus dijadikan dalil untuk menarik hukum kesunahan memberikan pinjaman [qardh]. Karena itu, status hadits tersebut adalah hadits hasan. Meski, hadits yang kedua dilemahkan oleh al-Albani.

✅ Selain itu, juga ada indikasi [qarînah] lain, bahwa memberi pinjaman hukumnya sunah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw:

«وَمَنْ كَشَفَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فِي الدُّنْيَا كَشَفَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْمُسْلِمِ مَا كَانَ فِي عَوْنِ أَخِيهِ» [رواه الدارقطني عن أبي هريرة]

“Siapa saja yang menyingkirkan kesulitan seorang Muslim di dunia, maka Allah akan menyingkirkan salah satu kesulitannya di Hari Kiamat. Allah senantiasa menolong seorang Muslim, selama dia menolong saudaranya.” [Hr. Ad-Daruquthni dari Abu Hurairah]

✅ Memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan jelas termasuk tindakan menyingkirkan kesulitan orang lain, membantu dan memenuhi kebutuhannya. Karena itu, dengan tegas Ibn Qudamah menyatakan, “Hutang hukumnya sunah bagi orang yang memberi pinjaman.” [Lihat, Ibn Qudamah, al-Mughni: Kitab al-Buyu’, hal. 947]

✅ Ini dikuatkan dengan hadits Nabi saw. yang menyatakan:

«قَرْضُ الشَّيْءِ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَتِهِ» [رواه البيهقي]

“Menghutangkan sesuatu itu lebih baik ketimbang menyedekahkannya.” [Hr. al-Baihaqi]

✅ Ibn ‘Umar memberikan penjelaskan tentang makna hadits tersebut, dengan mengatakan:

«الصَّدَقَةَ إِنَّمَا يُكْتَبُ أَجْرُهَا حِيْنَ التَّصَدُّقِ، وَالْقَرْضُ يُكْتَبُ أَجْرُهُ مَا دَامَ عِنْدَ المُقتَرِضِ»

“Sedekah itu pahalanya baru dicatat, ketika digunakan. Sedangkan hutang, pahalanya terus dicatat selama masih di tangan orang yang berhutang [belum dikembalikan].” [Lihat, Ibn Hajar al-Haitami, al-Inafah fi as-Shadaqah wa ad-Dhiyafah, hal. 57]

✅ Semuanya ini menjadi dalil yang menunjukkan, bahwa status hutang bagi orang menghutangi [muqridh] hukumnya sunah.

✅ Pertanyaan berikutnya, adalah apakah hukum sunah ini hanya berlaku bagi orang yang memberi pinjaman [muqridh] ? Ataukah berlaku juga bagi yang meminjam [muqtaridh] ?
Dalam konteks ini memang ada perbedaan pendapat. Setidaknya ada yang mengatakan sunah, dan ada yang mengatakan mubah.

✅ Pendapat yang mengatakan sunah adalah pendapat al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya, an-Nidzam al-Iqtishadi fi al-Islam: “Memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan hukumnya sunah. Mencari pinjaman [mustaqridh/berhutang] juga tidak makruh, tetapi hukumnya juga sunah. Karena Rasulullah saw. pernah mencari pinjaman [berhutang]. Selama berhutang itu ada, maka hukumnya sama-sama sunah, baik baik yang memberi pinjaman maupun yang meminjam.” [Lihat, al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, an-Nidzam al-Iqtishadi fi al-Islam, hal. 192]

✅ Adapun pendapat lain, yang mengatakan bahwa berhutang hukumnya mubah, adalah pendapat Ibn Qudamah, dalam kitabnya, al-Mughni. Beliau mengatakan, “Hutang itu hukumnya sunah bagi orang yang memberi pinjaman, dan mubah bagi orang yang meminjam.” Tetapi, di sisi lain, beliau menegaskan bahwa berhutang itu tidak makruh. Beliau mengutip pendapat Imam Ahmad, bahwa “Berhutang tidak sama dengan meminta-minta.” Maksudnya, kata beliau, “Tidak makruh. Karena, Nabi saw. pernah mencari pinjaman [berhutang]. Dengan dalil hadits Abu Rafi’. Andai saja berhutang itu makruh, tentu sudah dijauhi orang. Di samping, karena berhutang itu tak lebih dari mengambil pinjaman dengan kompensasi. Jadi, menyerupai jual-beli yang dihutang dalam tanggungan.” [Lihat, Ibn Qudamah, al-Mughni: Kitab al-Buyu’, hal. 947]

✅ Karena itu, hukum yang paling kuat menurut pendapat kami, mengenai status berhutang adalah sunah. Bukan mubah. Kesunahan ini berkaitan dengan hutang sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah, yaitu adanya kebutuhan yang harus dipenuhi, sementara tidak ada dana yang tersedia untuk memenuhinya. Hanya saja, ini tidak ada kaitannya dengan hutang dengan sistem riba. Karena ini jelas haram. Wallahu a’lam.

🍀
🌷
🌹

➕ “Lhoh Sul.. Sul, mau kemana lagi kamu..? Lagi dijelasin kok kabur..?”

⛔ “Kebelet pipis..!”, Jawab Sulhan sambil ngeloyor pergi.

➕ “Yeee pipis lagi, pipis lagi. Buruan kesini lagi ya..? Aku masih ada 7 penjelasan lagi yang mesti kamu dengerin. Biar kamu gak makin ngawur..!”

(Bersambung jika masih perlu disambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *