MEREKA YANG BERHIJRAH (18) – Sisi Lain Non Muslim yang Berbisnis Property Syariah

MEREKA YANG BERHIJRAH (18)
[Sisi Lain Non Muslim yang Berbisnis Property Syariah]

Namanya Sesanto, kami akrab memanggilnya dengan panggilan khas untuk kakak lelaki chinese, Koh Santo. Lelaki kelahiran Pulau Bangka ini sejak remaja sudah memberanikan diri mengadu nasib ke belantara ibu kota Jakarta. Tanpa keahlian apa-apa, tanpa kenalan siapa-siapa dan bermodal harta yang takseberapa.

“Saya ini orang bodoh. Tidak sekolah apalagi kuliah. Tidak punya modal harta. Satu-satunya modal saya adalah kejujuran..”, begitu koh Santo memulai cerita. “Jika sudahlah bodoh, tidak jujur pula, trus siapa yang mau percaya kita..?”, tambahnya.

“Dulu ke Jakarta bisnis apaan koh..?”

“Bisnis apa saja yang penting halal. Tidak menipu orang. Tidak menyakiti orang. Bisnis bisa tanpa modal, berbekal kepercayaan saja. Orang perlu barang, saya bantu nyariin. Udah gitu aja kok…”, begitu jawabnya. Memang rada unik kerjaan ini orang, seperti kerjaan orang serabutan. Tapi begitulah, sangat kontras dengan kekayaannya yang seabrek. Dengan dibantu 3 orang karyawannya, bisnis serabutan koh Santo masih bertahan hingga kini. “Tapi semua ada masanya..”, begitu ia menambahkan.

“Ooohhh, itu alasan kenapa koh Santo mulai melirik bisnis properti..?”

“Iya betul. Propertilah satu-satunya bisnis yang kemungkinannya selamat dan masih prospek disaat kondisi ekonomi seperti sekarang ini..”, ungkapnya.

Saya mengenal Koh Santo dua tahun yang lalu. Kebetulan kami sama-sama satu kelas di salah satu sekolah bisnis property terkenal di Jakarta. Ketika saya sampaikan skema Bisnis Property Syariah ‪#‎TanpaBank‬, dialah orang pertama dari kalangan Non Muslim yang langsung membenarkan skema cicilan langsung ke Developer. Bukan hanya itu, lahannya di Sukabumi seluas 4,2 hektar langsung dipersilahkan untuk dikelola menjadi komplek perumahan dengan skema Syariah.

“Saya juga tidak bankable. Sampai saat ini tidak punya utang bank karena memang dianggap tidak layak dipinjemi. Dan orang-orang seperti saya itu sangat banyak..”, begitu alasannya ketika ditanya kenapa setuju skema Tanpa Bank.

Hingga saat ini, koh Santo sudah memiliki 4 projek Property Syariah di Sukabumi, Bogor dan Cikampek. Sebagai seorang Buddhist, ketertarikannya dengan skema Developer Property Syariah memang mengejutkan. Namun baginya, itu bukan sesuatu yang aneh.

“Biarin aja apa kata orang. Walau pun non Muslim, saya juga berpuasa Ramadhan sebulan penuh. Itu karena mereka tidak tau manfaat berpuasa. Saya merasa makin sehat jika bulan puasa tiba. Enak sekali lho puasa itu..”, begitu alasannya. Memang betul, sebagaimana tahun lalu yang dia lewati sebulan penuh berpuasa, Ramadhan tahun ini koh Santo pun belum pernah tidak berpuasa. Full. Persis seperti kita yang muslim, dimulai sejak habis adzan subuh dan berbuka ketika bedug maghrib tiba. Bahkan, beliau juga rutin mengeluarkan zakat ketika Ramadhan tiba. hehehee warbyasah..!

“Kapan masuk Islam, koh..?”

“Entahlah. Saya jalani saja dulu seperti ini. Apakah nanti ujungnya saya masuk Islam ataukah tidak, biarlah waktu yang menentukan. ‘Kan kata pakdhe Rosyid, tinggal nunggu hidayah, hehee.. “, begitu alasan koh Santo setiap saya tanya. “Biar anak-anak dulu yang masuk Islam..”, tambahnya.

Alhamdulillah..
Sungguh kebahagiaan tersendiri jika suatu saat Koh Santo menjadi seorang Muslim. Di Penghujung Ramadhan yang mulia ini, saya mohonkan dengan sangat doa dari para sahabat agar sohib saya ini, koh Sesanto, mendapatkan Hidayah dari Allah SWT dan menjadi seorang Muslim. Aamiin.

“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi hidayah oleh Allah melalui perantaraanmu, itu lebih baik daripada unta merah yang kalian miliki.” (HR Bukhari dan Muslim)

Aamiinkan ya sobat.. aamiinkan.. Doa-doa antum ya hamba-hamba Allah yang sholih sholihah, insyaallah bisa dengan cepat menembus langit sehingga segera diijabah Gusti Allah.

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah.

MEREKA YANG BERHIJRAH (15) – Hijrah Rombongan, Projek Rame-Rame

MEREKA YANG BERHIJRAH (15)
[Hijrah Rombongan, Projek Rame-Rame]

Inilah generasi awal Developer Property Syariah. Bermula dari kelas mereka jugalah, Developer Property Syariah ini tersebar luas, makin meluas dan makin tersebar luas ke segenap pelosok Nusantara. Termasuk, logo DPS dengan 4 jendela rumah pun mereka yang membuatnya.

Alhamdulillah, 9 dari 10 member kelas perintis ini sekarang sudah memiliki Projek Property Syariah. Ada yang garap sendiri, ada juga yang garap projek bersama. Ada yang lancar, ada yang kurang begitu lancar. Apapun itu, Property Syariah tetap harus maju.

Maju terus..
Pantang Mundur..!

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah

MEREKA YANG BERHIJRAH (14) – Berani Lepas Aset untuk Lepas dari Cengkeraman Dosa Riba

MEREKA YANG BERHIJRAH (14)
[Berani Lepas Aset untuk Lepas dari Cengkeraman Dosa Riba]

Sepasang suami istri peserta seminar Property Syariah siang itu menghampiri saya di musholla Syariah Hotel Solo. Dengan amat sangat meminta sedikit waktu untuk berkonsultasi mengenai masalah yang sedang terjadi pada bisnisnya. Perkenalkan, beliau adalah pak Nashir, pengusaha yang sempat menekuni dunia fotografi spesialis motret model.

“Ada yang bisa saya bantu pak, bu..?”

“Kami berdua mau kejelasan status transaksi yang kami lakukan. Langsung saja tadz, sepengetahuan saya, dosa riba itu terkena bagi orang yang minjemi duit kemudian mengambil keuntungan dari pinjaman tersebut..”, kata pak Nashir. “Apakah peminjamnya juga terkena dosa riba tadz..?”, tanyanya.

“Lho iya pak, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, ada 4 kategori orang yang dilaknat oleh Rasulullah terkait dengan riba. Pertama, pemakan/pengambil riba. Kedua, yang membayarnya alias nasabah atau si peminjam. Ketiga, yang mencatat dan yang terakhir adalah mereka yang menjadi saksi atas transaksi riba itu. Hum sawaa’un. Mereka semua sama..”

“Waduuuuhhhhh…”, keluh pak Nashir. “Lemes tulang saya rasanya tadz. Berarti saya terkena laknat Allah sebagaimana hadits Nabi itu donk. Berarti saya juga berdosa besar sebagaimana para pemakan riba donk. Yang dosanya seperti menzinai ibu kandungnya sendiri. Trus gimana ini..? Apa yang harus saya lakukan..?”, berondong pak Nashir.

Rupanya perkara inilah yang menghantui beliau selama ini. Selidik punya selidik, ternyata beliau sempat berhutang bank yang besarnya hingga 9 Milyar rupiah. Gilee beneeerrr. Banyak amat ya..?

“Iya tadz. Hutang saya banyak. Sejak tahun 1995 saya sudah berhutang riba bank. Makin lama makin besar. Apalagi semenjak saya kenal EU di tahun 2008..”, jelasnya.

“Untuk apa saja, pak..?”

“Ya untuk modal bisnis sebagian besarnya, tadz. Mulai dari beli truk, modal jual beli HP, bisnis travel antar kota antar propinsi, hingga beli ruko tanpa DP dapet cash back, beli rumah tanpa DP dapet cash back, beli mobil tanpa DP dapet cash back, dan lain lain. Pokoknya gemblung..!”, tegas pak Nashir.

“Memang tidak tau kalau itu riba pak..?”

“Saya pikir yang terkena riba hanya rentenir atau pihak yang minjemi saja. Semenjak ustadz jelaskan bahwa peminjam atau nasabah juga terkena dosa sebagai pelaku riba, bawaannya mual-mual terus dan akhirnya muntah-muntah sampai sekarang. Pokoknya sebelum tuntas, saya belum tenang tadz..”, jelas pak Nashir.

“Trus bagaimana sekarang..?”

“Alhamdulillah, saya harus berani berkorban. Kalau gak gitu gak bakalan selesai ini urusan. Saya jual aset aset saya. Rumah, ruko, mobil dan lain lain..”, jawabnya.

“Jadi sekarang sudah beres pak..?”

“Belum tadz, dikit lagi. Dari hutang 9 Milyar sekarang sisa 450 juta lagi..”, jelas pak Nashir. “Mohon doanya agar kami bisa segera terbebas dari hutang dan riba..”

“Insyaallah. Yakin saja pak, yakin saja bu. Sebagaimana yang disabdakan Nabi, barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan ganti dengan sesuatu yang lebih baik. Tetap semangat pak. Trus, bagaimana bisnis propertinya pak Nashir..?”

“Untuk saat ini saya mengembangkan rumah tinggal siap huni di daerah Pati. Alhamdulillah banyak orang baik disekitar kami. Saat ini saya dibantu teman teman yang luar biasa..”, kata pak Nashir.

Alhamdulillah…
Begitulah kisah singkat pak Nashir dan istrinya yang sedang berjuang membebaskan diri dari hutang riba. Keberaniannya melepas aset aset yang dimilikinya sebagai pertanda bahwa beliau sangat serius menyelesaikan persoalan hutang ribanya. Belum tentu lho yang lain seberani beliau dalam berkorban.

Mari kita doakan pak Nashir dan keluarganya, semoga hutang-hutang ribanya segera tuntas. Bisnis barunya di Property Syariah diberikan kelancaran dan diberikan pula keistiqomahan untuk tetap berjalan dalam rel kebenaran Syariah Islam yang mulia ini. Aamiin.

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah.

MEREKA YANG BERHIJRAH (13) – Galau dan Dilemanya Pemilik Bank

MEREKA YANG BERHIJRAH (13)
[Galau dan Dilemanya Pemilik Bank]

Namanya Ridho Musamto, penerus bisnis perbankan yang dibangun orang tuanya di Singkawang, Kalbar. Pada awalnya, lelaki berbadan subur ini begitu antusias mengembangkan BPR milik orang tuanya. Namun apa hendak dikata, perjumpaannya dengan beberapa orang yang dianggap sebagai gurunya, malah merubah total pandangannya mengenai bank.

“Mas Ridho, anda terlihat sangat antusias mengikuti acara-acara yang mengusung tema Anti Riba. Bisa diceritakan alasannya..?”

“Iya tadz, awalnya saya sangat antusias untuk mengembangkan bisnis BPR yang telah dirintis orang tua. Puncaknya ketika saya mengikuti pendidikan perbankan selama sebulan. Maka saya pun makin bersemangat menyusun stategi pengembangan BPR ini. Namun, sehari setelah pendidikan itu selesai, saya justru dapat kejutan..”, ucap Mas Ridho memulai cerita.

“Kejutan apa yang dimaksud..?”

“Ada undangan ke saya untuk mengikuti acara seminar tentang haramnya riba. Dan acara itu telah berhasil menghancurkan dan meluluhlantakkan ilmu pengetahuan saya tentang perbankan yang selama puluhan tahun ini saya lakukan. Huffff…. Astaghfirullah… Ampuni hamba ya Allah..”, kata mas Ridho sembari meringis. “Dahsyaaat bener ancaman Allah mengenai pelaku riba..!”

“Hehehee lha terus gimana setelah itu banknya, masih tetap dijalani..?”

“Itulah yang bikin galau tadz. Ketika saya sudah paham mengenai haramnya skema ribawi, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana solusi praktisnya..?”, lanjut Mas Ridho. “Dan ternyata tidak banyak yang faham solusi praktisnya. Hikmahnya, inilah babak baru perjuangan saya. Karena larangan riba itulah yang akhirnya menjadikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang saya hadapi di BPR ini. MasyaAllah..”, keluhnya.

“Maksudnya gimana mas Ridho..?”

“Bank adalah lembaga intermediasi. Ya, itulah poin utama yang saya bisa tarik kesimpulannya. Dan intermediasi adalah fungsi utama perbankan..”, jelasnya.

“Artinya..?”

“Kita tidak harus sama sekali menghilangkan peran bank. Namun kita bisa menata ulang akad-akad yang dilakukan oleh bank agar tidak melanggar dengan hukum Syariah Islam..”, jelas mas Ridho. “Poinnya adalah jangan memaksakan nama-nama Islami untuk transaksi yang jelas dilarang dalam Islam. Kalaupun itu bagian dari perjalanannya…. plisss jangan berhenti, mari sama-sama kita sempurnakan..”, imbuhnya.

“Trus, menurut mas Ridho, fungsi intermediasi seperti apa yang bisa dilakukan oleh bank yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam..?”

“Intermediasi adalah cara untuk mempertemukan pihak yang kelebihan harta dengan pihak yang kelebihan harta. Dalam surat Al Baqarah 275 sd 283 Allah SWT menjelaskan bagaimana fungsi itu ditransaksikan. Pertama, berupa sedekah, infaq dan zakat. Kedua, berniaga atau berbisnis yang bisa berupa transaksi jual beli dan kerjasama bisnis. Dan ketiga, skema utang piutang..”, terang mas Ridho. “Maka saya pun mulai mengatur ulang strategi bisnis yang awalnya utang piutang dengan bunga, menjadi 3 jurus yang tadi. Semoga bisa segera menyelesaikan permasalahan riba yang sudah terlanjur dianggap sebagai hal yang biasa. Untuk itulah saya berkomitmen terus belajar mengenai cara-cara berbisnis dalam Islam..”, jelasnya panjang lebar.

Man temans…
Memang mas Ridho ini termasuk orang yang sangat bersemangat dan antusias belajar mengenai transaksi dan muamalah syariah. Saat acara Work Shop Property Syariah di Pontianak, beliau ini orang yang paling sering ngejar ngejar panitia pelaksana, agar ada acara lanjutannya. Dan jangan sampai acara seminar itu berhenti tidak ada kelanjutannya. Pokoknya harus lanjut apapun yang terjadi, walau andaikan pesertanya cuma dia seorang, hehee. Baginya, skema yang disodorkan Developer Property Syariah adalah solusi, dan bukan hanya sekedar acara motivasi agar menjauhi transaksi-transaksi ribawi.

“Iya tadz, saya butuh solusi. Ketika saya tersadarkan mengenai dosa dan bahaya transaksi ribawi, wajar saja saya berikhtiar mencari solusi praktisnya. Dan itu saya dapatkan di acara DPS, sementara di acara lain yang saya ikuti masih tidak jelas..”, begitu akunya.

“Trus, kaitannya dengan Projek Propertinya saat ini gimana..?”

“Alhamdulillah saat ini saya mengembangkan beberapa projek property dengan menggandeng para investor. Yang awalnya hanya 1 lokasi projek, sekarang alhamdulillah kami memiliki 7 lokasi projek..”, jawab mas Ridho manstraab.

7 projek bro.. manteb tenan.
Dalam catatan saya, beliau ini telah memiliki 4 projek di Singkawang, 1 di Sambas, 1 di Mempawah dan 1 lagi projek di Pontianak. Salah satu keberhasilan mas Ridho ini adalah memadukan skema Property Syariah dengan skema lembaga keuangan yang telah ditata agar tidak bertentangan dengan syariah.

Untuk memperdalam akad-akad transaksi dan muamalah Syariah, beliau juga serius menimba ilmu Syariah in Business yang diselenggarakan Developer Property Syariah (DPS) dan Komunitas Pengusaha Rindu Syariah (PRS) di Jakarta beberapa hari yang lalu. “Saya harus belajar dari ahli dan praktisinya langsung, yang mengerti solusi praktis, karena ini bukan sekedar urusan motivasi..”, begitu alasannya terbang jauh-jauh dari Singkawang Kalbar.

“Terus terang yang dilakukan Mas Ridho, jika sukses, bisa menjadi prototype ideal memadukan skema Property Syariah dengan Lembaga Keuangan yang ditata sedemikian rupa dengan aturan Syariah. Nah, apa pesan mas Ridho buat kita semua..?”

“Perjuangan membebaskan riba ini memang belum selesai, namun kurang lebih satu semester berlalu, sudah sangat banyak memberikan pencerahan dan langkah-langkah real menyelesaikan permasalahan riba. Semoga Allah menyampaikan usia ini pada kondisi yang benar-benar membebaskan kami semua dari riba. Terus maju Property Syariah, semoga berjaya…!”, pekik mas Ridho bersemangat.

Alhamdulillah…
Satu lagi titik cerah mungkin bisa kita dapatkan dari perjuangan mas Ridho ini. Usaha yang dibangun orangtuanya yakni Bank Perkreditan Rakyat sejak puluhan tahun silam perlu solusi. Dan alhamdulillah, setahap demi setahap beliau berusaha mengubahnya agar usaha keluarganya ini tidak bertentangan dengan Syariah. Berhasilkah..? Mari kita doakan semoga beliau bisa menuntaskan perkara ini, sekaligus menjadi pionir dalam memadukan skema Property Syariah dengan Lembaga Keuangan yang sesuai dengan hukum-hukum Syariah.

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah.

MEREKA YANG BERHIJRAH (12) – Pengusaha Kaya Raya yang Berani Tinggalkan Riba, Bersiap Hidup Sederhana

MEREKA YANG BERHIJRAH (12)
[Pengusaha Kaya Raya yang Berani Tinggalkan Riba, Bersiap Hidup Sederhana]

Nama lengkapnya Raden Mas Panji Wuryanano. Kami para pegiat Property Syariah memanggilnya dengan panggilan akrab, pak Nano saja. Mendengar nama ini pasti yang terbersit dibenak kita adalah nama permen, betul ‘kan..? Hehehe. Memang perjalanan hidup pak Nano ini penuh warna, kayak permen Nano Nano.

Salam Satu Trilyun..!
Ini sapaan khas pak Nano kepada audiens. Iya, selain dikenal sebagai pengusaha tulen, beliau juga lama malang melintang di dunia training motivasi bisnis. Informasi lebih detail mengenai pria kelahiran Surabaya ini bisa diakses di website pribadinya di www.wuryanano.com

“Karier bisnis bapak kelihatannya penuh warna, boleh diceritakan sedikit tentang perjalanan bisnis pak Nano..?”

“Iya, saya sudah puluhan tahun menjalani hidup sebagai Entrepreneur. Bagi saya, ini sungguh sangat menyenangkan..”, begitu pak Nano mulai bercerita. “Sebelumnya saya sempet kerja di BUMN sebagai Farm Manager Unit Pertanian dan Peternakan, mengingat saya adalah lulusan dokter hewan Universitas Airlangga. Walau seorang dokter, tapi saya ini dokter yang tidak pernah membuka praktek klinik..”

“Pernah jatuh menjalani bisnis, pak Nano..?”

“Jatuh bangun dalam bisnis itu biasa. Pada awalnya bisnis saya lancar-lancar saja. Imbas krisis moneter 1998, bisnis saya jatuh sehingga merugi hingga milyaran rupiah. Saat itu saya jual aset-aset saya seperti rumah, tanah dan mobil untuk membayar hutang saya ke bank dan beberapa relasi bisnis..”, kenang pak Nano. “Pada tahun 2000, saya berhasil bangkitkan kembali bisnis saya itu dengan “bantuan hutang” dari bank. Bisnis saya mulai berkembang lagi dan saya mulai “terlihat” kaya raya lagi..”, tambahnya.

“Mulai tertarik di bisnis property kapan, pak..?”

“Tahun 2011 dengan skala kecil-kecilan. Saya mulai beli sebidang tanah dan membangun 2-3 rumah. Lalu saya jual kembali. Ternyata untungnya lumayan. Dan saat itu tanpa hutang bank karena modal saya masih cukup..”, jelas Pak Nano. “Justru dari sinilah saya mulai berfikir, seandainya saya bisa bikin skala lebih besar lagi alangkah hebatnya..”.

“Naaaah… ke bank lagi ‘kan..?”

“Iya tadz. Sejak saat itu saya kembangkan bisnis property dengan “bantuan” modal bank hingga 4 projek perumahan dengan jumlah 30-40 unit di tiap projeknya..”, ungkap pak Nano. “Saya mulai menikmati bisnis sebagai developer property yang nilainya puluhan milyar di setiap projek saya..”, kenangnya.

“Ngomong-omong hutang bapak saat itu berapa ya..?”

“Selain hutang perusahaan sejumlah puluhan milyar, saya juga punya hutang pribadi yang nilainya kurang lebih sama, puluhan milyar rupiah juga..!”, jelas pak Nano.

“Wow… gede juga hutangnya pak..!”

“Betul tadz. Dan suatu ketika saya merenung dan menelaah. Tersadar kalau bunga yang dibebankan oleh bank ke saya ternyata sangat besar. Sehingga selama ini saya ternyata bekerja untuk pihak bank, untuk melunasi hutang saya, membayar bunga dan “margin” yang sudah ditetapkan sejak awal oleh bank..”, ucap pak Nano. “Ternyata saya bekerja untuk bank, bukan untuk diri saya dan keluarga saya sendiri..!”.

“Trus, kapan bapak ketemu momentum untuk berubah..?”

“Tahun 2015 ketika mengikuti seminar anti riba. Setelah acara itu saya mulai berembug dengan istri dan kedua anak saya untuk jual aset aset yang ada dan melunasi semua hutang riba. Konsekuensinya, kami sekeluarga harus mau mulai hidup sederhana, meninggalkan kebiasaan hidup mewah..”, ungkap pak Nano. “Dan momentum puncaknya ketika saya ikut acara Developer Property Syariah. Terus terang saya kaget, ternyata bisnis property itu dapat dilakukan secara syar’iy sesuai ajaran Islam. Tanpa hutang, tanpa riba, tanpa denda, tanpa sita, dan tanpa asuransi..”, imbuhnya.

Man teman..
Pak Nano ini sungguh luar biasa. Beliau dengan segera menjual aset-aset yang ada, termasuk aset bisnis yang telah melambungkan namanya. Kesemuanya digunakan untuk menutup hutang-hutang ribanya. Hmmm…. sungguh, tidak banyak pengusaha yang ikhlas melepas aset sebagaimana beliau ini.

Pasca melepas aset-asetnya senilai milyaran rupiah untuk menutup hutang riba, oleh mitra-mitra bisnisnya pak Nano dianggap aneh bahkan dipandang sebelah mata. “Dulu mobilmu milyaran harganya, kok mau-maunya kamu sekarang cuma pakai kijang kotak..?”, begitu salah satu cibiran dari mitra bisnisnya. Dan makin aneh ketika beliau berkomitmen berbisnis Property Syariah.

“Oiya pak, apa kesan pertama bapak saat mengikuti acara Developer Property Syariah..?”

“Wow… itu ungkapan saya pertama kali saat tersadarkan oleh uraian skema DPS ini. Dahsyaaat..!”, jawab pak Nano bersemangat.

“Apa yang pak Nano lakukan setelah ikut acara kami..?”

“Saya benar-benar mau meninggalkan hutang riba yang selama ini menjerat bisnis-bisnis saya, termasuk bisnis property saya..”, jawabnya. “Saya mau hijrah menjadi Developer Property Syariah 100% dengan meninggalkan hutang riba yang dilaknat oleh Allah SWT.”

“Manstraaaab. Ayo pak, kami dukung..!”

“Memang, saya perlu energi ekstra untuk benar-benar menjalankan bisnis Property Syariah ini. Beda banget dengan skema konvensional yang tinggal kontak bank dan semuanya dapat langsung “dibantu dana” oleh bank..”, jelas pak Nano.

“Apa yang menguatkan tekad bapak untuk berhijrah meninggalkan skema bisnis property konvensional dan beralih ke skema Property Syariah..?”

“Saya yakin Allah SWT pasti menunjukkan jalan-Nya dan memudahkan saya untuk mewujudkan kemauan dan komitmen saya. Mohon doanya agar saya tetap istiqomah dalam mewujudkan kemauan saya terjun di bisnis Developer Property Syariah..”, jawab pak Nano.

“Ada lagi yang ingin bapak sampaikan untuk teman-teman..?”

“Salam sukses dan berkah bagi kita semua, para pegiat Developer Property Syariah. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan memudahkan urusan kita semua. Salam Satu Trilyun..!”. Demikian pesan beliau buat kita semua.

Alhamdulillah…
Ada rasa haru terselip dalam hati mendengar kisah hijrahnya pak Wuryanano ini. Beliau salah satu tokoh pengusaha yang disegani, kini bertekad kuat berhijrah untuk berbisnis secara syariah. Semoga Allah meridhoi aktivitas beliau dan memberikan keberkahan atas langkah dan ikhtiar beliau membumikan skema Bisnis Property Syariah ini.

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah

MEREKA YANG BERHIJRAH (11) – Perjuangan Membumikan Property Syariah di Bumi Papua

MEREKA YANG BERHIJRAH (11)
[Perjuangan Membumikan Property Syariah di Bumi Papua]

Namanya Bayu Nugroho, MT. Bukan Magister Teknik tapi Master Tanah, hehee. Iya betul tebakan anda, sesuai namanya, mas Bayu ini bisa dipastikan bukan orang asli Papua. Apalagi kalau dilihat fotonya, tidak sedikitpun terlihat seperti orang Papua. Walau begitu, beliau merasa sangat cinta pada daerah ini. Terbukti, mas Bayu justru mengembangkan usaha disana dan bukan sekedar numpang usaha mengais rejeki lantas dibawa pulang kembali ke pulau Jawa.

“Kapan mulai buka usaha di Papua, mas..?”

“Sejak 2011 tadz. Walau saat itu belum jelas usahanya apa, juga modalnya darimana, namun namanya sudah saya tetapkan, Aufa. Wis pokoknya nekad saja..!”, jawabnya antusias.

“Kok bisa main di Property, gimana ceritanya mas..?”

“Secara tidak sengaja, waktu itu saya ditantang dan dikasih lahan oleh seorang tokoh. Terserah mau dipakai untuk apa. Nah, dari sanalah muncul ide bikin perumahan yang saya namakan Perumahan Griya Pasifik Permai..”, jawab mas Bayu.

“Sukseskah..?”

“Stress tadz. Pas saya buka perumahan, ditempat saya terjadi kerusuhan. Jadi tidak ada satupun rumah saya yang laku terjual hingga hampir setahun. Padahal saya harus bayar lahan ke pemiliknya..”, jawab mas Bayu. “Coba ustadz tebak, darimana akhirnya saya dapat dana untuk bayar lahan..?”

“Bank. Betul ‘kan..?”

“Iya tadz, itulah yang terpikir saat itu. Dan itulah awal mula saya terlibat hutang riba. Jumlahnya 1 M. Dan yang saya pikir ini bisa menyelesaikan masalah, yang terjadi justru memunculkan masalah-masalah baru..”, tukasnya.

“Apa masalahnya..?”

“Pinjaman baru berjalan 3 bulan, saya sudah diwajibkan mengembalikan dana pinjaman 25% nya. Sejak saat itu saya berifikir, ini pasti ada yang salah. Usaha belum juga berjalan lancar tapi sudah harus mengembalikan modal ke bank..”, jawab mas Bayu. “Darisanalah saya coba cari-cari, adakah konsep yg lebih baik mengenai masalah permodalan ini..”, imbuhnya.

“Trus ketemu caranya..?”

“Enggak tadz, hehee. Tapi sejak saat itu saya terus mencari-cari skema idealnya. Nah karena tidak ketemu caranya, saya kembali pinjam di Bank 1,5 M. Padahal saat itu saya sudah yakin bahwa skema hutang untuk bisnis ini salah..”, jelas mas Bayu.

“Lha udah yakin salah, kenapa malah diterusin berhutang..?”

“Terpaksa tadz. Karena ada team saya yg bikin ulah padahal dia rajin banget ibadah ke gereja setiap minggu. Ternyata kalau urusan uang, bisa menimpa siapa saja..”, jelas Mas Bayu.

Oiya, Mas Bayu saat ini telah memiliki beberapa projek Property Syariah. Selain Aufa Property di Jayapura dan Griya Pasifik Permai, beliau juga mendirikan bisnis Property atasnama perumahan Mandala Home Stay, Griya Madani Village dan Kampoeng Ceria Sentani. Manteb “kan..? Punya projek Property Syariah di bumi Papua. Tertarik join dengan beliau..?

“Bisa diceritakan awal mengenal skema Property Syariah di projeknya mas Bayu..?”

“Akhir 2015 saya ikut acara yang diadakan Developer Property Syariah. Dan inilah skema yang saya pernah pikirkan sekian lama. Ternyata DPS berhasil memformulakan skema tersebut dengan sangat meyakinkan. Terima kasih atas ilmunya, tadz dan khususnya bab fiqih muamalah. Sejak saat itu saya makin manteb dan ikutan ngaji..”, jelas mas Bayu.

“Setelah merasa mantab, apa yang dilakukan mas Bayu..?”

“Sejak itu juga, tepatnya di akhir 2015 saya nyatakan bahwa bisnis property saya telah hijrah ke skema Property Syariah #TanpaBank..”, jawabnya manstraab.

“Pengalaman menerapkan skema syariah di bumi Papua gimana..?”

“Awal-awal sangat lancar tadz. Karena skema baru ini ternyata sangat diminati konsumen. Walau pun saat ini ada kendala. Tapi kendalanya bukan di skema syariahnya, namun lebih di kesiapan team internal projek saya. Ini persoalan SDM dan manajemen saja..”, tukas mas Bayu.

“Bisa lebih diperjelas mas Bayu..?”

“Saya dikhianati pemilik lahan yang mengambil dokumen tanah di kantor tanpa ijin, akibatnya projek ada yang gagal padahal penjualan bagus. Trus ada juga masalah di bagian pengawasan konstruksi yang teledor. Ini sebenarnya perkara teknis yang semestinya tidak terjadi..”, ujarnya.

“Masih sering digodain oleh orang bank..?”

“Yaa masihlah tadz. Ini saja barusan ditelpon pihak bank. Ada yang nawari 2 M, 3 M bahkan 5 M. Tinggal tandatangan saja udah cair. Bener bener digodain nih tadz..”, jawab mas Bayu. “Terkadang terpikir untuk ambil lagi pinjaman bank. Tapi saya anggap ini adalah ujian dari Allah untuk bisa menjadi lebih bijak dan sabar mengelola bisnis property..”

“Bagaimana perasaan mas Bayu saat ini..?”

“Walau pun projek kami sedang memerlukan dana, tapi yang jauh lebih penting adalah kedamaian hati dan jiwa. Alhamdulillah sejak memutuskan hijrah menggunakan skema syariah, Allah memberikan segalanya. Kedamaian, ketenangan, keikhlasan dan kerendahan hati sehingga bisa sabar dan tabah menghadapi ujian..”, ungkap mas Bayu.

“Ada pesan yang ingin mas Bayu sampaikan ke teman-teman..?”

“Bersabarlah. Insyaallah semua akan sampai pada waktunya. Saya yang baru memulai saja saat ini telah mendapatkan banyak penawaran. Mulai lahan seluas 16 hektar tanpa bayar dan beberapa lokasi lain yang muanteb. Dan baru sore tadi ditawari untuk mendirikan   Rumah Sakit Islam di Jayapura. Alhamdulillah. Mohon doanya ya teman teman agar segera terealisasi sehingga saudara-saudara seiman kita disini punya bargaining yang lebih kuat dan disegani. Mari kita bersinergi disini..”. Demikian pesan mas Bayu. “Mohon doanya juga agar ummat Islam di Papua makin diterima masyarakat Papua sebagai agama yang Rahmatan lil ‘alamin..”, tambahnya.

Aamiiin… aamiin.. aamiin..
Yuk mari doakan agar mas Bayu bisa tetap istiqomah membumikan skema Syariah dalam bisnis Propertinya di Papua. Sekaligus diberikan kekuatan agar senantiasa kuat bertahan dan terus berjalan dalam dakwah ini.

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah.

MEREKA YANG BERHIJRAH (10) – Pengusaha yang jadi Rebutan Bank Penjaja Riba

MEREKA YANG BERHIJRAH (10)
[Pengusaha yang jadi Rebutan Bank Penjaja Riba]

Namanya Gamal Haris. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi karismanya memancar kuat dari wajahnya. Takheran lelaki asal Pati ini kerap disambangi para politikus khususnya jika menjelang hajatan demokrasi. Dus, ternyata betul. Beliau memang sempat aktif jadi pengurus partai politik di Kabupaten yang terletak di sebelah timur Semarang ini.

Kisah heroiknya dimulai sejak 2001 sesaat setelah toko bangunan milik keluarganya secara total ia ambil alih dengan baik-baik dari kakaknya. Sejak saat itulah pak Haris, begitu biasa kami menyapanya, resmi menjadi pengusaha dan penguasa toko material eks milik keluarga. Lalu dimulailah era baru baginya, era riba durjana.

“Pak Haris, bisa diceritakan awal mula anda berhubungan intim dengan riba..?”

“Semenjak toko bangunan resmi saya kelola. Awalnya hutang 400 juta. Lalu naik jadi 750 juta di tahun 2005. Lalu naik lagi jadi 1 M di tahun 2006..”, jelas pak Haris. “Makin lama hubungan saya dengan pihak bank BNI makin akrab..”

“Apakah hanya berhubungan dengan satu bank saja..?”

“Tidaklah.. Ketika lagi mesra-mesranya dengan BNI, bank BCA datang menggoda. Saya diiming-imingi bunga lebih murah, provisi lebih rendah dan plafon pinjaman dinaikin jadi 1,45 M. Siapa yang gak tertarik digodain kayak begini..?”, akunya. “Akhirnya saya tergoda juga deh..”

“Bank yang lain, ada juga yang ngajakin selingkuh..?”

“Nah itu dia. Baru saja berkas masuk ke BCA, datanglah Bank Mandiri dengan penawaran yang lebih seksi. Bunga dan provisi sama dengan BCA tapi plafon lebih gede jadi 1,75 M. Klepek-klepek saya tadz..”, jawab pak Haris. “Saya langsung proses dengan Mandiri. Bahkan saat itu udah tandatangan..”, tambahnya.

“Trus, bagaimana dengan bini pertama… ehh, BNI..?”

“Ketika saya datang ke BNI untuk pamitan sekaligus mengucapkan terima kasih, ternyata pihak BNI keberatan. Dia gak rela dicerai, minta waktu maksimal 2 minggu untuk bersolek, hehee. BNI merasa bisa berdandan lebih cantik, lebih seksi, lebih menarik dari bank lain..” Jelas pak Haris. “Dan bank ini segera bergerak cepat. Hanya dalam waktu 10 hari dia sudah kasih jawaban..”, imbuhnya.

“Apa jawabannya..?”

“Bunga dan provisi disamain dengan Mandiri namun plafon dinaikin jadi 2 M. Plus akan diback up kalau minta tambahan dana lagi. Asal terbuka, dan gak usah selingkuh dengan bank lain, hehehe..”, jelasnya.

Wow… tuhh, liat man temans..
Begitulah cara main bank. Jika ada maunya, lagi memprospek konsumen, bersolek tuh dia. Pas kita lagi jaya, mendekat tuh dianya. Dan ternyata persaingan sesama penjaja riba sedemikian sengit ya..? Berlomba-lomba dalam keburukan, hihihiii..

“Apa cuma 3 bank itu yang datang godain pak Haris..? Apa gak tertarik untuk coba selingkuh lagi..?”

“Ya iyalah tadz. Gara-gara saya jadi rebutan bank, saya jadi sombong. Karena dibelakang saya ada beking bank. Akhirnya saya justru makin menjadi-jadi. Astaghfirullah…”, kata pak Haris. “Saya milih ekspansi gede-gedean..”

“Ekspansi di bidang apa saja..?”

“Bank Panin mensupport saya bikin bimbel berikut beli rukonya 750 juta. Di kota lain saya disupport CIMB Niaga 980 juta untuk cabang bimbel di kota lain. Lalu beli dump truk baru langsung 5 unit yang di back up juga oleh Panin sejumlah 1 M. Saya juga bikin pabrik bata beton paving dengan utang melalui Bank Muamalat 1,95 M. Belum lagi mobil pribadi yang gonta ganti. Pokoknya nafsu banget deh berhutang..!”, jelas pak Haris.

“Gileee beneeer. Banyak amat utangnya. Total berapa jumlah hutang waktu itu..?”

“Lebih dari 8 Milyar tadz. Itu belum termasuk 20 kartu kredit yang saya pegang dengan limit sekitar 500 juta..”, akunya. “Akhirnya usaha saya juga beraneka macam, mulai buka rumah makan, kontraktor, salon muslimah hingga main perumahan juga..”

Hadeeuuuuh…
Begitulah realita riba perbankan. Tak akan pernah puas, tak ada habis-habisnya. Dirayu terus, dibujuk terus, digoda terusss.

“Ehhh pak, ngomong-omong berapa angsuran per bulan untuk nyicil itu semua..?”

“Ada lebih 150 juta per bulan..”

“Eheeem.. gede juga ya..? Trus, gimana kok tiba-tiba berubah seperti sekarang ini..?”

“Saat itu saya ikut kajian ekonomi yang menyinggung mengenai besarnya dosa riba. Tapi saat itu belum tau solusinya. Intinya saya harus segera meninggalkan transaksi riba hingga akhirnya ketemu solusi praktisnya dengan Skema Property Syariah. Ploooong banget rasanya dapat solusi..”, jelas pak Haris. “

Oh iya man teman. Pak Haris ini semangatnya menimba ilmu sungguh ruar biasa. Beliau datang saat saya ngisi half day Workshop Property Syariah di Solo. Lalu hadir di Camp 3 hari di Lembang Bandung. Trus hadir juga saat two days Workshop di Semarang. Eee… saat acara Camp DPS di Yogya ternyata beliau juga nongol. “Saya memang rada telmi tadz, jadi harus sering-sering ngulang materi..”, begitu alasannya ketika saya tanya.

“Trus apa lagi yang ingin pak Haris ceritakan..?”

“Suatu saat ketika ngaji, saya diwarning untuk memilih. Melanjutkan kajian dengan syarat bebas dari hutang bank (riba) atau kajiannya dicukupkan berhenti sampai ini saja..”, kata pak Haris.

“Bapak pilih mana..?”

“Saya pilih agar tetap bisa diperbolehkan ngaji. Konsekuensinya saya harus segera beresi hutang bank. Akhirnya toko bangunan legendaris saya jual. Ruko salon saya jual. Rumah makan saya jual. Truk-truk juga saya jual cepat. Yang penting ngumpul duit untuk lunasi utang yang masih sekitar 8 M. Alhamdulillah keluarga juga mendukung. Lunas tuntas..!”, jelasnya dengan manstrab.

Subhanallah walhamdulillah..
Tidak banyak lho orang yang berani mengambil resiko dengan menjual aset seperti yang dilakukan pak Haris. Kebanyakan orang pengen utangnya lunas, tapi gak mau ngelepas asetnya. Gak mau berkorban. Bahkan kalau bisa, utangnya yang ngelunasi orang lain aja. Enak tenaaan..!

“Bagaimana dengan Property Syariah, apakah sudah diterapkan di projek perumahannya..?”

“Alhamdulillah.. saat saya berhijrah, saya masih punya 200-an unit rumah yang akhirnya saya jual dengan skema Syariah tanpa bank, tanpa BI Cecking, tanpa sita, tanpa denda, tanpa ribet, njlimet dan mumet. Hingga kini sudah terjual 40 unit..”, jawab pak Haris.

“Bagaimana kesannya setelah pakai skema yang unik anti mainstream ini..?”

“Sangaaaaaat beda. Sangat beda sekali. Hikmahnya kini saya bisa istiqomah jamaah di masjid 5 waktu. Bisa punya waktu lebih banyak dengan keluarga. Bisa aktif lebih banyak untuk kegiatan dakwah. Bisa bantu banyak orang memiliki rumah dengan cara halal walaupun mereka tidak bankable..”, ucap pak Haris. “Dan yang paling penting adalah……”

“Apaan tuh..?”

“Saya sudah tidak punya hutang riba lagi. Ploooong…!”

Alhamdulillah…
Mari doakan semoga pak Haris bisa istiqomah dalam jalan dakwah ini. Tidak lagi tergoda dengan bujuk rayu para penjaja riba jahiliyyah. Doakan juga agar bisnis Property Syariahnya lancar berkah dan rizkinya berlimpah ruah. Aamiin.

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah

MEREKA YANG BERHIJRAH (9) – Sukses Berkat Property Syariah, Istri pun Nambah

MEREKA YANG BERHIJRAH (9)
[Sukses Berkat Property Syariah, Istri pun Nambah]

Nama adalah doa. Sugih M Sugiarto namanya. Double sugih. Terlahir dari keluarga sederhana di pedalaman Trenggalek, Jawa Timur. Tepatnya di daerah terpencil, pedesaan dan terbelakang. Pokoknya jauh dari pusat kota, begitu ia bercerita. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2009 kampung halamannya belum diterangi listrik. Bener-bener asli cah ndeso, demikian pengakuannya.

Kang Sugih, begitu kami biasa menyapanya, adalah mantan fotografer profesional yang memilih hijrah meninggalkan gemerlapnya dunia modelling. Untuk kemudian beralih menjadi seorang pengusaha. Beragam pilihan bisnis pernah beliau jalani hingga sempat 8 kali jatuh bangun dalam mengembangkan usaha. Hingga akhirnya, pelabuhan terakhirnya adalah di bisnis property.

“Kapan mulai tertarik dengan bisnis property..?”

“Kalau dengar property sudah lama sekali tadz, sempat mikir mau beli tanah. Tapi dari mana ya uang sebanyak itu..? Gak kebayang karena nilainya EM-EM-AN. Hingga akhirnya pada akhir tahun 2015 bertemu dengan Ustadz Rosyid pada Workshop Property Syariah yang mengajarkan strategi jitu dalam mengembangkan bisnis Property..”, jelas kang Sugih.

“Trus, berapa modal yg sampeyan punya waktu itu, kang Sugih..?”

“Terua terang modal awal saya kurang dari 10 juta rupiah, tadz. Sebagaimana yang pernah njenengan sampaikan. Dan ternyata bisa..”, jelasnya.

Tuuuuh… kan pemirsa..
Serius lho.. Ternyata bisnis property bisa dijalankan dengan modal minim. Kang Sugih ini salah satu pelakunya.

“Kami dapat kabar, dari sekian banyak alumni yang pernah belajar Bisnis Property, capaian kang Sugih termasuk yang fantastis. Emang sudah punya berapa projek sekarang..?”

“Alhamdulillah tadz. Tidak sampai setahun saya telah akuisisi 11 lahan. Bahkan di Malang dan Probolinggo, saya sering dipanggil dengan sebutan Raja Kapling, karena terus terang saya lebih sering main di kaplingan..”, jawab kang Sugih. “Tentunya ini merupakan pencapaian yang lumayan cepat, karena kurang dari satu tahun. Sekali lagi terima kasih ilmunya tadz..”.

“Bagi kunci suksesnya donk buat teman-teman kita..!”

“Menurut saya, kunci sukses sebuah impian itu fokus, terarah dan continue. Ilmu property adalah ilmu action, dan alhamdulilah dalam setahun ini saya fokus di bisnis property. Penjualan melesat bak roket, otomatis penghasilan juga meningkat pesat, dan tujuan mulia pun mulai bermunculan..”

“Tujuan mulia..? Apaan tuh..?”

“Alhamdulillah, dalam perjalanan di bisnis ini, saya dipertemukan dengan seorang gadis yang memiliki sebuah impian yg sama..”, tukas kang Sugih. “Kami memiliki impian suatu saat bisa berdakwah bersama-sama, mendirikan sekolah ditempat terpencil sebagai wasilah dakwah kami, memajukan dan mewarnai desa kami dengan cahaya dakwah..”

“Wisss, mulai seru nih. Trus gimana..?”

“Sempat terpikir, ya Allah apa sudah benar yang saya lakukan ini..?”, jawab kang Sugih.

“Emang kang Sugih mau ngapain..?”

“Poligami tadz, hehehe..”, jawabnya manstrab.

“Dulu saat sampeyan jatuh bangun sampai gonta ganti bisnis, istrinya baru satu. Sekarang setelah sukses, kok malah nambah istri..? Gimana respon istri pertama..?”

“Justru dukungan dan ijin dari Istri pertama sangat besar tadz. Apalagi orang tua, keluarga besar juga tidak ada yang mempermasalahkannya. Alhamdulillah-nya, Allah memberikan kemudahan pada tujuan mulia kami ini hingga kami akhirnya menikah..”, kata kang Sugih.

“Lha yang kayak gini ini nih yang bikin pengen, hehehee. Lanjutkan kang..! Gimana suka dukanya..?”

“Alhamdulillah setelah menikah lagi, perjalanan bisnis saya semakin terasa lancar dan mudah. Karena ada satu tambahan tulang rusuk lagi yang membantu. Ibarat seekor burung dengan dua sayapnya yang sempurna, mengepakkan sayapnya terbang melesat menjelajah angkasa. Hidup bahagia dengan sepasang bidadari dan bersama-sama saling membantu, sinergis dalam dakwah..”, jawab kang Sugih laksana pujangga. Pantas saja dia ini dijuluki sebagai Panglima Laskar Poligami, hehehe.. udah deh, bikin panas aja nih orang.

“Kita kembali bahas property ya.. selama ini adakah kendala yang dialami kang Sugih dengan segitu banyak nangani projek..?”

“Ada tadz. Di proyek saya yang ke 4, saya mendapatkan ujian yang sempat menggoncangkan jiwa. Setelah saya telusuri ternyata karena saya telah melalaikan salah satu wasiat penting dari guru besar saya dibidang bisnis property, yaitu antum tadz Rosyid..”

“Wasiat yang mana nih..?”

“Dulu saat masih belajar di kelas, ustadz mewasiatkan 2 hal. Pemain bisnis property ketika hendak memulai eksekusi lahan penyakitnya gak berani action, gak pede, takut dll… Namun setelah berhasil diproyek pertama penyakitnya “serakah”, pengin nambah proyek lagi, lagi dan lagi..”, jelas kang Sugih.

“Nah.. itu. Lha terus..?”

“Begitu pun saya. Sempat mengalami sifat “serakah” ini sehingga terseok-seok dalam menyelesaikan segala permasalahannya. Hingga mentok..tok.. duk..!”, aku kang Sugih. “Awalnya saya fokus di masalah dan strategi untuk menyelesaikannya. Tetapi masalahnya kok tambah rumit saja..”, imbuhnya.

“Trus..?”

“Subhanallah, setelah saya merasa mentok dan berserah diri kepada Allah. Dia hadirkan pertolongan-Nya hingga akhirnya permasalahan saya beres tuntas..” tukas kang Sugih. “Ada pepatah yang mengatakan, dibalik kesuksesan seorang suami, ada doa yang dipanjatkan oleh istri. Jadi, semakin banyak istri, semakin banyak pula yang mendoakan. Begitu tadz..”. Jiaaaaaah…. panas…panas..!

“Jadi masih mau namba lagi nih critanya..?”

“Siyaaap tadz…!”

Hehehee, iyaa deh…
Kita doakan saja semoga kang Sugih dan keluarganya bisa istiqomah dalam dakwah. Rejekinya makin lancar berlimpah. Keluarganya juga bisa harmonis sakinah mawaddah warahmah. Sehingga bisa kembali nambah dan nambah, hah..hah..hah..

Salam Berkah Berlimpah

Dari Kami,
Developer Property Syariah