fbpx

Oleh : Rosyid Aziz Muhammad
(Praktisi Bisnis, Penggagas Developer Property Syariah)

Penulis membersamai sejumlah tokoh nasional, seperti Prof Suteki, Ustadz Ismail Yusanto, Wahyudi Al Maroki, Candra Purna Irawan dan KH Umar Shadiq dalam diskusi seputar Dinamika Politik dan Hukum, Tantangan Pengusaha Muslim yang diselenggarakan LBH Pelita Umat di Semarang.

Sebagai praktisi bisnis, penulis paham betul susahnya menjalankan dan mempertahankan idealisme dalam kondisi yang serba tidak ideal. Ya, bisnis syariah mungkin bisa bertahan dan tumbuh, namun sulit bahkan bisa dibilang mustahil berjalan ideal dalam iklim, habitat, lingkungan yang tidak cocok seperti saat ini dimana sistem kapitalisme diterapkan. Bisnis syariah hanya akan tumbuh ideal jika berada dalam habitat yang tepat, yakni sistem Islam.

Lantas bagaimana cara Bisnis Syariah bertahan dalam iklim seperti ini ?

Ibarat tokoh Sandy dalam film kartun Spongebob, kalau hanya sekedar bertahan hidup memang masih memungkinkan. Penulis mengalami sendiri, sejak penulis menggagas skema Bisnis anti mainstream yakni Developer Property Syariah #TanpaBank #TanpaRiba di tahun 2012, pangsa pasar yang berhasil diraih DPS tidak lebih dari 1% dari total kue di bisnis property. Jangankan Property Syariah yang baru 7 tahun, Bank Syariah yg hampir 30 tahun eksistensinya pun tidak beranjak dari 4% market share-nya dalam industri perbankan nasional.

Sudahlah kue yang dinikmati bisnis syariah masih sangat kecil, serangan massive berupa propaganda, opini dan stigma negatif kerapkali diblow up setiap kali ada bisnis bisnis berlabel syariah mengalami kerugian dan kegagalan. Sedangkan jika ada bisnis bercorak kapitalis yang terlilit masalah bahkan menimbulkan dampak kerugian sistemik yang sangat besar, selalu saja ada pemakluman pemakluman bahkan kompak ditutup rapat.

Lantas apa sikap kita sebagai Pengusaha Muslim ?

Jika mau jujur, agar bisnis syariah tumbuh kembang dengan ideal, maka tidaklah cukup menjadi sosok pengusaha. Sesukses suksesnya kita sebagai pengusaha, tidak akan bisa sebesar bisnisnya para taipan kapitalis yang memang bisnisnya cocok dengan habitat sistem kapitalisme yang bercorak ribawi dengan industri perbankan dan pasar saham sebagai penopang utamanya.

Untuk itu diperlukan kesadaran kolektif di kalangan para praktisi bisnis syariah, bahwa sesungguhnya sinergi dan kolaborasi diantara para Pengusaha Muslim yang memiliki visi, misi dan frekuensi yang sama mutlak diperlukan dalam situasi saat ini. Secara praktis bisa dimulai dari membentuk jaringan jaringan komunitas bisnis.

Berikutnya, perbanyak silaturahmi dengan menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak baik intelektual, politikus, ekonom, aktivis mahasiswa, aparat keamanan, hingga para ulama akhirat. Syukur syukur kalau pengusahanya juga sekaligus ulama aktivis dakwah, intelektual pemikir dan bahkan politikus.

Singkatnya, tidaklah cukup menjadi pengusaha Muslim. Tapi bertransformasilah menjadi Intelektual Pemikir Islam sekaligus Politikus Islam dengan tetap menjadi Pengusaha Muslim. Jadilah Mufakkirun, Siyasiyyun wa Taajirun.

Takbiiirrr… !!!

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *